Laman

Kamis, 24 Maret 2011

Serasa di Surabaya Karena Bonek

Sore itu Minggu 20 Maret 2011, cuaca Jogja dan sekitarnya sangat cerah, langitnya merekah, nikmat tuk jalan di sore hari. Jalanan menuju stadion Maguwoharjo, Sleman, Yogyakarta sontak menjadi lautan orang beratribut serba hijau yang tidak lain tidak bukan adalah suporter fanatik Persebaya, Bonek. Mereka berbondong-bondong berangkat secara bergelombang dari Surabaya menuju Jogja hanya untuk mendukung tim kebanggan mereka yang akan bertanding melawan tuan rumah Real Mataram FC dalam lanjutan kompetisi Liga Primer Indonesia.

Jam sudah menunjukkan pukul 14.00, aku segera bergegas mempersiapkan atribut Bonek yang akan aku pakai untuk mendukung Persebaya sore itu. Kerinduan akan penampilan Persebaya dan suasana fanatik Bonek di stadion sudah menghinggap dalam diriku. Aku yang asli "arek Suroboyo" sekarang sedang menempuh study kuliah di Yogyakarta. Jadi wajar saja jika suasana Surabaya yang sudah melekat dalam diriku selama 18 tahun sangat aku rindukan. Maka dengan langkah pasti aku langsung cabut ke stadion Maguwoharjo. Tidak lupa berdoa kepada sang Pencipta agar selalu diberi kemudahan.

Dari jalan ring road barat hingga ring road utara Yogyakarta aku libas begitu saja demi menuju stadion. Jarak sekitar 16 km tidak menghilangkan semangatku sama sekali. Sekitar pukul 14.30 aku sudah sampai di sekitar stadion, suasana serba Persebaya sudah bisa dirasakan, dikarenakan banyak spanduk, umbul-umbul, yang bertema dukungan untuk Persebaya. Bahkan masih banyak Bonek yang berkeliaran di sekitar stadion mungkin sekitar 1000 orang. Tetapi, yang aku herankan suasana untuk Real Mataram hampir tidak ada, padahal itu adalah tim tuan rumah. Mungkin itu masih tim baru yang belum mempunyai masa fanatik.

Sebagai Bonek yang baik, rajin menabung, tidak sombong, dan beriman, aku langsung membeli tiket pertandingan. Tiket seharga 10.000 untuk tribun penonton sudah aku kantongi, segera aku masuk ke stadion. Separuh dari tribun stadion telah dipadati oleh Bonek, warna hijau bajunya, berkumpul semua, nyanyi dan goyang bersama. Mereka bernyanyi menyambut Persebaya yang akan berlaga, berjuang untuk menghiburkan hati semua. Aku langsung mengambil tempat di tengah-tengah kawan Bonek semua, walau secara pribadi kita tidak saling mengenal, tapi karena satu hati kita dalam mendukung Persebaya, maka kita tidak ragu kita saling menyapa dengan teguran "dulur" atau bahasa Indonesianya "sodara" mungkin bahasa gaulnya adalah "bro".

Sang dirijen Bonek telah naik ke singgasananya, mirip sebuah mimbar di depan ribuan Bonek yang berkerumun di bawah papan skor. Dengan melambaikan tangan dari bawah ke atas menandakan tanda untuk para anak buahnya agar berdiri dari tempat duduknya dan mulai untuk menyerukan seruan-seruan dukungan untuk tim kebanggan mereka bersama. Suasana di sore itu membuatku serasa seperti di rumah sendiri. Suasana serba Surabaya sangat melekat di stadion Maguwoharjo, Sleman sore itu. Kehadiran para Bonek ini juga yang membuat Persebaya bermain lebih bersemangat karena mereka pasti juga merasakan berada di kandang sendiri.

Sepanjang pertandingan berlangsung, suporter yang identik dengan warna hijau itu terus bernyanyi dan berjoget dengan semangat, seperti tiada hentinya. Semua rasa capek dan lapar yang dirasakan seperti terbayar tuntas saat melihat permainan cantik yang dimainkan oleh Persebaya sore itu, dan semua itu terbayar lunas dengan kemenangan 2-6 Persebaya atas Real Mataram.

Suasana serba Surabaya masih terasa disaat pertandingan telah usai. Ribuan Bonek masih memadati areal sekitar stadion, polisi masih berjaga diantara lautan hijau sore itu. Ribuan Bonek secara bergelombang diangkut oleh truk-truk yang telah disiapkan kepolisian yang di tugaskan mengantar Bonek ke stasiun Lempuyangan untuk selanjutnya naik kereta pulang ke Surabaya.

Beruntung tour Bonek ke Jogja ini menambah catatan baik Bonek saat bertandang ke luar kota. Setelah kemarin sukses dengan tournya ke Bali, sekarang Bonek kembali sukses membawa nama baik Surabaya, Persebaya dan Bonek saat tour ke Jogja. Walau kemarin sempat dikabarkan kembali berulah di Lamongan, tapi itu dibayar lunas dengan perdamaian mereka dengan suporter fanatik Persis Solo, Pasoepati. Hampir tidak ada gesekan sama sekali saat di Solo, yang ada malah sambutan baik teman-teman Pasoepati terhadap Bonek.

Tren Positif ini yang harus terus ditingkatkan oleh semua oknum-oknum suporter di Indonesia, tidak hanya Bonek, seluruh elemen suporter Indonesia haruslah sudah saatnya berinstropeksi diri agar tidak lagi bertindak rasis atau anarkis demi membangun sepakbola Indonesia agar lebih baik, dan supaya suporter Indonesia tidak selalu dicap sebagai Public Enemy yang hanya bisa merusuh.

Majulah Sepakbola Indonesia !!! Bersatulah Suporter Indonesia !!!
SALAM SATU NYALI !!! WANI !!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar